Setelah melewati tes pertama, tes kedua pun dimulai. uji kekuatan pukulan terhadap panel daya serap. Para peserta diminta menghantam panel tersebut dengan kekuatan penuh. Panel itu terhubung langsung ke layar monitor besar yang akan menampilkan angka tingkat kekuatan mereka. Setiap peserta diberi kesempatan melakukan tiga kali pukulan, dan nilai tertinggi dari ketiganya akan menjadi penentu kelulusan. Batas minimal yang harus dicapai adalah seribu, angka yang terlampau tinggi bila dibandingkan dengan manusia biasa yang rata-rata hanya mampu menyentuh angka di bawah seratus.

Satu per satu peserta maju ke depan. Mereka menyalurkan kekuatan terbaik dalam tiga pukulan beruntun, dan angka-angka pun bermunculan di layar, sembilan ratus delapan puluh tujuh… seribu seratus empat puluh… seribu tiga ratus lima puluh…

Setiap angka yang muncul disambut oleh sorakan kagum dari para penonton. Jelas, level para peserta dari Imperium Verta jauh melampaui standar biasa.

Seorang mutan berkulit baja bahkan mencatat angka seribu enam ratus, memecahkan rekor peserta terkuat dari pertandingan sebelumnya. Riuh tepuk tangan menggema, disusul gumaman kekaguman dari berbagai arah.

"Gadis kecil itu bakal patah tangan sebelum angkanya muncul," celetuk seseorang dengan tawa meremehkan.

Leena melangkah perlahan ke depan tanpa menanggapi. Tatapannya datar, tanpa emosi.

Ia telah memperhatikan dengan saksama gaya dan kekuatan para peserta sebelumnya, termasuk mutan berkulit baja tadi. Dari situ, Leena bisa mengukur seberapa besar kekuatan yang perlu ia tunjukkan. Ia tidak berniat mengerahkan seluruh kekuatannya, terlebih karena energi spiritual di tubuhnya sulit dipulihkan di dunia ini. Setiap gerakan harus dihitung.

Ia berdiri tegak, menarik napas perlahan, lalu mengayunkan tinjunya ke belakang… dan melepaskan satu pukulan lurus ke arah panel.

Suara dentuman keras bergema. Panel bergetar hebat, dan layar monitor langsung menampilkan angka yang mengejutkan seluruh arena.

Seribu satuan energi.

Leena kembali ke posisi semula, mengulang pukulannya dua kali lagi. Hasilnya tak berubah—angka seribu muncul lagi, dan lagi.

Sebagian penonton sempat tertawa, menyangka hasil itu adalah batas maksimal yang bisa dicapai Leena. Namun sebagian lainnya terdiam, terpaku menyaksikan sosok gadis itu berdiri tanpa tanda kelelahan. Angka seribu bukan angka kecil—di dunia ini, angka tersebut telah jauh melampaui kekuatan para petarung biasa.

Namun justru keseragaman nilai itulah yang membuat sebagian orang terdiam dalam ketegangan. Nilai yang sama dalam tiga pukulan berarti kontrol tenaga yang sangat presisi, dan itu jauh lebih sulit dari sekadar memukul keras. Terlebih lagi, pukulan Leena tampak ringan, seolah ia hanya mengayunkan tangan tanpa beban. Tidak ada urat tegang, tidak ada nafas terengah, tidak ada ekspresi terpaksa.

Seorang lelaki di belakang menjatuhkan helmnya tanpa sadar. Petugas yang berdiri di sisi arena melongo. Wajah Darven, pria berambut perak yang sempat mengejek, berubah kaku.

"Itu… mustahil…" bisiknya nyaris tak terdengar.

Para peserta yang peka dan kuat segera menyadari satu hal, Leena bukan lawan sembarangan. Kendati nilai yang ditunjukkan tampak hanya menyentuh batas minimal, tetapi konsistensi dan cara ia melepaskan pukulan justru membuat mereka merasa waspada.

Leena melangkah mundur perlahan. Ia tidak mengatakan apa pun. Tatapannya tetap dingin dan mantap, menembus segala cemoohan, menghapus semua keraguan yang sempat menggema di ruangan itu.

Tes berikutnya menguji stamina, ketahanan suhu ekstrem, dan simulasi refleks tempur. Leena melaluinya tanpa cela. Gerakannya tak mencolok, tapi presisi, seakan tubuhnya telah dilatih melalui ratusan medan pertempuran.

Empat jam berlalu. Dari seratus lebih peserta, hanya lima nama tersisa.
 
Leena.  
Darven, pria berambut perak yang semula mencemoohnya.  
Kazzeth, wanita berkulit duri dari ras eksternal.  
Lorrik, Mutan berkulit baja, seorang manusia setengah robot.  
Dan satu makhluk bertopeng yang tidak mengucap sepatah kata pun selama seleksi.

Leena menatap nama-nama di layar. Tubuhnya memang kecil, tapi kekuatannya sebagai master foundation emas hitam bukan sekedar omong kosong.

Dan ia belum selesai. Ini baru awal.

Seleksi telah usai. Dari puluhan peserta kelas Imperium Verta, hanya lima yang tersisa. Mereka dibawa menuju lorong khusus yang terpisah dari area seleksi utama. Cahaya biru redup mengalir dari lantai logam, dan dinding di sekelilingnya berdenyut pelan seakan bernapas, memperlihatkan pola arsitektur canggih namun asing.

Langkah Leena bergema lembut di belakang para peserta lain. Ia tak menunjukkan lelah sedikit pun, meski tubuhnya baru saja melewati serangkaian ujian berat. Darven, pria yang sebelumnya mengejeknya, kini hanya melirik sekilas sebelum menunduk. Bahkan dia tak berani bertatap mata dengannya, bibirnya diam meski gerak napasnya masih berat. Keheningan menyelimuti rombongan mereka saat memasuki ruangan bundar tempat seorang petugas menanti.

Petugas itu, berjas panjang berwarna gelap dengan emblem perak di dadanya, menatap mereka semua dengan dingin. Di tangannya, sebuah tablet transparan memancarkan cahaya data.


"Selamat. Lima dari kalian telah lolos ke babak utama tingkat Imperium Verta. Sesuai sistem, pertarungan akan dimulai hari ini. Kalian diberi waktu istirahat selama satu jam. Setelah itu, arena utama akan dibuka."

Darven sempat mengernyit. "Secepat itu?"

Petugas itu menatapnya, lalu mengangguk. "Ini bukan ajang hiburan biasa. Sponsor menginginkan pertarungan yang sesungguhnya. Tak ada waktu untuk berleha-leha. Kalian yang sampai di titik ini sudah dianggap siap bertarung kapan pun."

***
Sementara Leena melangkah memasuki ruang seleksi peserta untuk mengikuti pertandingan, Lynx memfokuskan kekuatan persepsinya, berusaha merasakan jejak sosok anak kecil di dalam bangunan tersebut. Namun setelah beberapa waktu, ia mengernyit pelan, tak ada satu pun petunjuk mengenai keberadaan Isha. Hatinya mulai merasakan keganjilan.

Tanpa suara, Lynx menghilang dari ruang pendaftaran dan muncul di sisi lain bangunan, membaur di antara kerumunan penonton yang terus berdatangan. Ia memperhatikan pergerakan mereka dengan tajam, mengikuti alur sambil terus mengawasi segala kemungkinan yang mencurigakan.

Orang-orang berdatangan menggunakan metode yang serupa dengan yang digunakan Lynx sebelumnya, lift teleportasi yang membawa mereka dari suatu tempat. Di atas langit, Lynx menatap ke atas. Sebuah kubah besar memayungi seluruh area bangunan, membatasi pandangan dari luar dan dari dalam. Ia menduga kuat bahwa metode inilah yang digunakan The Circuit untuk menyembunyikan eksistensi tempat ini dari siapapun yang mencoba mencarinya dari luar planet.

Dengan persepsinya, Ia telah memeriksa seluruh permukaan planet ini. Di luar kubah, tak ada kehidupan, hanya bentangan batu-batu mati dan kehampaan yang menindih. Tempat ini… bukan sekadar arena, melainkan fasilitas tertutup yang dibangun khusus untuk satu tujuan, arena kematian.

Luas area di dalam kubah ini hampir menyamai aula inti Sekte Api Langit. Pilar-pilar hitam menjulang mengelilingi, dihiasi ukiran-ukiran unik yang menambah suasana kemegahan ruangan. Setiap sisi dinding dilapisi logam berkilau, memantulkan cahaya dengan kilau samar seperti embun beku.

Melihat situasi cukup lengang, Lynx kembali menghilang dari pandangan. Ia melesat diam-diam menelusuri setiap bagian luar gedung, menyusuri lorong-lorong, menyatu dalam bayangan. Kecepatannya menembus batas penglihatan biasa.

Untuk menjangkau bagian dalam gedung yang terlindungi tingkat keamanan tinggi, ia mengaktifkan mata langit. Dengan teknik itu, ia dapat melihat menembus lapisan dinding dan pintu, namun tetap saja, tak ada tanda keberadaan Isha.

Ia sempat mencoba menyusup ke dalam salah satu ruangan yang dijaga ketat, namun sensor di ruangan itu langsung menyala, menangkap kehadiran "sesuatu" yang asing. Meskipun posisinya tidak bisa dilacak secara langsung, Lynx tidak ingin mengambil risiko.

"Teknologi canggih memang tetap luar biasa. Aku tidak boleh membuat masalah sebelum Isha kutemukan," bisiknya.

Dengan telinganya yang tajam, Lynx mendengar percakapan dua penjaga keamanan di sudut ruangan bawah. Mereka membahas tentang alarm yang sempat aktif beberapa saat lalu. Sensor gedung mendeteksi kehadiran entitas asing, namun karena tak terlihat apa pun, mereka menganggapnya sebagai gangguan sistem semata.

"Padahal jelas alarm berbunyi... tapi tak satu pun jejak ditemukan," ucap salah satu dari mereka.

"Aku yakin hanya kesalahan sensor… Ingat, bisa menghilang atau bergerak cepat, tetap sensor akan menemukan dan menampilkannya di layar, tapi faktanya tidak ada yang terlihat," jawab yang lain dengan nada santai. Dia tidak percaya ada yang berani membuat ulah terhadap The Circuit, terutama karena banyak petarung kuat milik The Circuit berkumpul saat ini untuk menjaga pimpinan yang hadir.

Lynx mengamati gelang kristal di tangan para tamu dari kejauhan. Ia mendengar para penjaga menjelaskan fungsinya, setiap gelang mengandung identitas berbeda dan wajib digunakan semua orang di dalam area kubah. Siapa pun yang tidak memakai gelang akan langsung terdeteksi sebagai penyusup oleh sistem pengawasan. Bahkan tindakan mencurigakan sekecil apa pun akan memicu investigasi dari petugas keamanan.

Mendengar semua itu, Lynx mengerutkan dahi.

"Keamanan sangat ketat. Tapi sepertinya mereka belum membawa Isha kesini," gumamnya pelan.

Ia turun kembali ke lantai dasar, menuju pintu masuk utama. Di sana, barisan tamu mengular, diperiksa ketat oleh penjaga. Setiap undangan diverifikasi sebelum pemiliknya diberikan gelang kristal bening. Begitu dipakai, gelang itu menyala lembut, menyatu dengan aura pemakainya dan mulai mencatat seluruh aktivitas mereka.